Selasa, 13 Oktober 2015



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan non formal yang tersebar di Indonesia. Dimana pondok pesantren lahir ditengah-tengah masyarakat. Setiap pondok pesantren memiliki ciri khas yang berbeda-beda tergantung dari bagaimana tipe Reader Shipnya dan metode seperti apa yang diterapkan dalam pembelajarannya. Seiring dengan perkembangan zaman, tidak sedikit pesantren yang mencoba menyesuaikan dan bersedia menerima akan suatu perubahan, namun tidak sedikit pula pesantren yang memiliki sikap penutup diri dari segala perubahan-perubahan dan pengaruh perkembangan zaman dan cenderung mempertahankan apa yang menjadi keyakinan.
Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan yang mempunyai tujuan yang dirumuskan dengan jelas sebagai acuan program-program pendidikan yang diselenggarakannya. Professor Mastuka dalam bukunya M. Dian Nafi’ dkk, menjelaskan bahwa tujuan utama  pesantren adalah untuk mencapai hikmah atau wisdom (kebijaksanaan) berdasarkan pada ajaran Islam yang dimaksud untuk meningkatkan pemahaman tentang arti kehidupan serta realisasi dari peran-peran dan tanggung jawab social.[1]
Pola pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren erat kaitannya dengan tipologi pondok pesantren sebagaimana yang dituangkan dalam cirri-ciri (karakteristik) pondok pesantren sebagaimana yang penulis utarakan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengertian Pondok pesantren
2.      Bagaimana metode yang diguanakan


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pondok Pesantren
Terus terang, tak banyak referensi yang menjelaskan tentang kapan pondok pesantren pertama berdiri dan bagaimana perkembangannya pada zaman permulaan. Kata pondok pesantren terdiri dari dua kata, Pondok dan Pesantren. Jika ditelusuri, kata ini tidak seutuhnya berasal dari bahasa Indonesia. Akar kata pondok disinyalir terambil dari bahasa Arab, Funduk yang berarti hotel atau asrama.[2] Bahkan istilah pondok pesntren, kiai dan santri masih di perselisikan.
Sedangkan kata pesantren berasal dari kata santri yang di imbuhi awalan pe-dan akhiran—an yang berarti menunjukkan tempat, maka artinya adalah tempat para santri.
Terlepas dari itu, karena yang di maksudkan dengan istilah pesantren dalam pembahasan ini adalah sebuah lembaga pendidikan dan pengembangan agama Islam di Tanah Air (khususnya jawa) dimulai dan dibawa oleh wali songo, maka model pesantren di pulau Jawa juga mulai berdiri dan berkembang bersamaan dengan zaman Wali Songo. Karena itu tidak berlebihan bila dikatakan pondok pesantren yang pertama didirikan adalah pondok pesantren yang didirikan oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Syekh Maulana Maghribi.[3]
Pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan yang mempunyai kekhasan tersendiri dan berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya. Pendidikan di pesantren meliputi pendidikan Islam, dakwah, pengembangan kemasyarakatan dan pendidikan lainnya yang sejenis. Para peserta didik pada pesantren disebut santri yang umumnya menetap di pesantren. Tempat dimana para santri menetap, di lingkungan pesantren, disebut dengan istilah pondok. Dari sinilah timbul istilah pondok pesantren.[4]
M. Arifin dalam bukunya Mujamil Qomar memberikan defenisi pondok pesantren sebagai berikut “Suatu lembaga pendidikan agama Islam yang tumbuh serta diakui masyarakat sekitar, dengan sistem asrama (komplek) di mana santri-santri menerima pendidikan agama melalui sistem pengajian atau madrasah yang sepenuhnya berada di bawah kedaulatan dari Leadership seorang atau beberapa orang kyai dengan ciri-ciri khas yang bersifat kharismatik serta independent dalam segala hal”.[5]
Jadi, yang dimaksud dengan pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam dengan menetap dalam asrama (pondok) dengan seorang kyai, guru sebagai tokoh utama dan masjid sebagai pusat lembaga dan menampung peserta didik (santri), yang belajar untuk memperdalami suatu ilmu agama Islam. Pondok  pesantren juga mengajarkan materi tentang Islam, mencakup tata bahasa Arab, membaca Al-Qur’an, Tafsir, Etika, Sejarah dan ilmu kebatinan Islam. Pondok pesantren tidak membedakan tingkat sosial ekonomi orang tua peserta didik (santri), dengan menekankan pentingnya moral agama sebagai pedoman perilaku peserta didik (santri) sehari-hari, serta menekankan pentingnya moral keagamaan tersebut dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.

B.     Sistem Pendidikan Pesantren
MC. Ashan dalam buku Filsafat Pesantren Genggong karya Abd. Aziz memaknai sistem  sebagai strategi yang menyeluruh atau rencana dikomposisikan oleh satu set elemen yang harmonis, memperesentasikan satuan unit, masing-masing element mempunyai tujuan sendiri yang semuanya berkaitan terurut dalam bentuk yang logis.[6]
Sistem pendidikan pesantren secara umum memiliki otoritas tersendiri, memiliki cirri khas tersendiri antara pendidikan pesantren yang satu dengan yang lain, sehingga bentuk pendidikan pesantren terdapat perbedaan terutama pesantren yang menyelenggarakan sistem salafiyah dan khalafiyah. Oleh karena itu, penulis sebelum menjelaskan sistem pendidikan terlebih dahulu akan memberikan batasan tentang sistem pendidikan pesantren.
Sistem pendidikan pesantren adalah gerak perjuangan pesantren didalam memantapkan identitas dan kehadian di tengah-tengah kehidupan bangsa yang tengah membangun ini sebagai subsistem pendidikan Nasional. Pesantren semakin mantap dan kokoh kedudukannya serta semakin besar peran dan sumbangannya dalam memenuhi kebutuhan nasional melalui upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Sebagaimana penjelasan tentang sistem pendidikan juga terdiri dari unsure-unsur dan nilai-nilai yang merupakan satu kesatuan. Kualitas sistem pendidikan pesantren tidak dapat dipisahkan dan sangat memiliki ketergantungan pada teoritisasi dan praktek pendidikan pesantren.[7]
Pemahaman tentang sistem yang bersifat tradisional adalah lawan dari sistem modern. Sistem modern tradisional adalah berangkat dari pola pengajaran yang sangat sederhana dan sejak semula timbulnya. Yakni pola pengajaran sorogan, bandongan, dan wetonan. Dalam mengkaji kitab-kitab agama yang ditulis oleh para ulama zaman abad pertengahan dan kitab-kitab itu dikenal dengan istilah “Kitab Kuning
a.      Sistem Pendidikan Dan Pengajaran Yang Bersifat Tradisional
1.      Sorogan
Sistem pengajaran sorogan dilaksankan dengan jalan santri yang biasanya pandai menyorongkan sebuah kitab kepada kiai untuk dibaca dihadapan kiai itu. Dan kalau ada salahnya kesalahan itu langsung dihadapi oleh kiai itu. Dipesantren besar (sorogan) dilakukan oleh dua atau tiga orang santri saja, yang biasa terdiri dari keluarga kiai atau santri-santri yang diharapkan kemudian hari menjadi orang ‘alim.[8]
Tidak jauh beda dengan sorogan yang dilakukan dipesantren Genggong dimana santri menyodorkan sebuah kitab kepada kiai, kemudian kiai memberikan tuntunan bagaimana cara membacanya, menghafalkannya, makna dan tafsirannya lebih mendalam. Metode yang seperti ini di akui paling intensif karena dilakukan seorang demi seorang. Dan ada kesempatan untuk Tanya jawab secara langsung.[9]
2.      Wetonan
Sistem pengajaran Wetonan di Annuqayah dilaksanakan dengan kiai membaca suatu kitab dalam waktu tertentu dan satri dengan membawa kitab yang sama dan mendengarkan dan menyimak bacaan kiai.[10] Dan membuat catatan baik arti maupun keterangan tentang kata-kata yang telah disampaikan oleh kiai
Kelemahan dari metode ini yaitu mengakibatkan santri bersikaf pasif. Sebab kreatifitas santri dalam proses belajar mengajar yang didomoninasi oleh kiai, sementara santri hanya mendengarkan dan memperhatikan.
Kelebihan dari metode ini yaitu terletak pada pencapaian kuantitas dan pencapaian kajian kitab, selain itu juga bertujuan untuk mendekatkan relasi antara santri dengan kiai.
3.      Metode Diskusi
Metode Musyawarah atau Bahsul Masail, metode ini merupakan penunjang dalam mendidik siswa agar mereka memiliki keberanian dan kemampuan dalam mengemukakan pendapat dengan cara melaksanakan diskusi kelas, diskusi antar kelas, dan diskusi antar lembaga pendidikan, yang secara husus hanya terbatas pada kajian kitab kuning.[11]
4.      Meode Ceramah
Metode ceramah ini merupakan hasil pergeseran dari metode wetonan dan metode sorogan. Kelemahan dari metode ini justru mengakibatkan santri menjadi lebih fasif, sedangkan kelebihannya yaitu mampu menjangkau santri dalam jumlah banyak.
5.      Metode Muhawarah
Metode muhawarah adalah metode yang melakukan kegiatan bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa arab yang diwajibkan pesantren kepada para santri selama mereka tinggal di pondok. Sebagian pesantren hanya mewajibkan pada saat tertentu yang berkaitan dengan kegiatan lain, namun sebagian pesantren lain ada yang mewajibkan para santrinya setiap hari menggunakan bahasa arab.
Kelebihan dari penerapan metode ini yaitu dapat membentuk lingkungan yang komunikatif antara santri yang menggunakan bahasa arab dan secara kebetulan dapat menambah pembendaharaan kata (mufradat) tanpa hafalan. Pesantren yang menerapkan metode ini secar intensif selalu berhasil mengembangkan pemahaman bahasa.
6.      Metode Mudzakarah
Metode mudzakarah adalah suatu pertemuan ilmiah yang secara spesifik membahas masalah diniyyah seperti aqidah, ibadah dan masalah agama pada umumnya. Aplikasi metode ini dapat mengembangkan dan membangkitkan semangat intelektual santri. Mereka diajak berfikir ilmiah dengan menggunakan penalaran-penalaran yang didasarkan pada Al-qur’an dan Al-sunah serta kitab-kitab keislaman klasik. Namun penerapan metode ini belum bisa berlangsung optimal, ketika para santri membahas aqidah khususnya, selalu dibatasi pada madzhab-madzhab tertentu. Materi bahasan dari metode mudzakarah telah mengalami perkembangan bahkan diminati oleh kiai yang bergabung dalam forum bathsul masail dengan wilayah pembahasan yang sedikit meluas.
7.      Metode Muhafadhah
Metode ini masih dilestarikan sebagai ciri khas pesantren salafiyah. Yang memerlukan metode hafalan pada mata pelajaran Nahwu, Shorrof, Hadits, dan ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan ketentuan yang berlaku.[12]
b.      Sistem Kombinasi
Sesuai dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan teknologi banyak pesantren yang melakukan pembenahan dalam metode pembelajaran, hal itu dilakukan guna memperbaiki kualitas-kualitas sumber daya santri sehingga bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Berdaarkan persfektif metodik, pesantren terpolarisasikan menjadi tiga kelompok yaitu:
1.      Pesantren yang hanya meggunakan satu metode yang bersifat tradisional dalam mengajarkan kitab-kitab klasik.
2.      Pesantren yang hanya menggunakan metode-metode hasil penyesuaian dengan metode yang dikembangkan pendidikan formal.
3.      Pesantren yang menggunakan metode-metode bersifat tradisional dan mengadakan penyesuaian dengan metode pendidikan yang dipakai dalam lembaga pendidikan formal.
4.      Berikut ini beberapa metode hasil penyesuaian dengan pendidikan formal yaitu :
a)         Metode Karya Wisata
Metode karya wisata tampaknya masih terdengar cukup asing bagi pesantren kecuali ziarah makam-makam wali songo atau ziarah kemakam-makam kiai terdahulu. Saefudin Zuhri menggambarka “bahwa di beberapa pesantren, para santri tidak hanya menyibukkan diri dalam mengaji dan belajar, namun ada juga saat-saat rekreasi atau liburan”.
b)        Metode Diskusi
Metode diskusi merupakan metode biasa diterapkan di perguruan tinggi, namun sekarang metode ini juga diterapkan di pesantren. Diskusi membuka kesempatan timbulnya pemikiran yang liberal dengan dasar argumen ilmiah. Melalui metode ini ekslusivisme pemikiran di pesantren dapat terbongkar, feodalisme pengajaran dari kiai dan ustadz memperoleh perlawanan, sikap toleran, sportif terhadap munculnya ide-ide baru menemukan penyaluran dan mendorong timbulnya daya kreatif yang tajam.[13]



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari pemaparan diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa Pondok Pesantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam dengan menetap dalam asrama (pondok) dengan seorang kyai, guru sebagai tokoh utama dan masjid sebagai pusat lembaga dan menampung peserta didik (santri), yang belajar untuk memperdalami suatu ilmu agama Islam. Pondok  pesantren juga mengajarkan materi tentang Islam, mencakup tata bahasa Arab, membaca Al-Qur’an, Tafsir, Etika, Sejarah dan ilmu kebatinan Islam.
Sedangkan sistem pendidikan yang sering digunakan oleh lembaga Pondok Pesantren adalah sistem metode tradisional diantaranya adalah sorogan, wetonan, ceramah, Diskusi, muhawarah, mudzakarah, dan muhafadzah, dimana dari metode ini masih banyak diterapak oleh lembaga-lembaga lainnya,
Dan yang kedua sistem atau metode kombinasi yang didalamnya juga mengajarkan metode-metode tradisional yang dikaitannya dengan metode-metode modern.



DAFTAR PUSTAKA

Aziz., Abd., Filasafat Pesantren Genggong, (Probolinggo: STAI Zainul Hasan Genggong, 2011).

__________ Pradigma Pendidikan Pesantren Genggong, (Probolinggo: STAI Zainul Hasan Genggong, 2012).

Departemen Agama RI, Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah, (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2003).

FAdjan., Abdullah., Peradaban dan Pendidikan Islam, (Jakarta: CV. Rajawali, 1991).

Ghazali., Bahri., M., Pendidikan Pesantren Berwawasan Lingkungan, Kasus Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura, (Jakarta: IKIP, 2001).

Hasbullah, Kapita Selekta Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 1999).

Nafi’., Dian., M., dkk, Praksis Pembelajaran Pesantren, (Yogyakarta: LKis, 2007).

Qamar., Mujamil., Pesantren dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, (Jakarta: Erlangga, 2005).

Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997).


[1]  M. Dian Nafi’, dkk, Praksis Pembelajaran Pesantren, (Yogyakarta: LKis, 2007), hal. 49
[2] Hasbullah, Kapita Selekta Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 1999), hal. 40
[3] Wahjoetomo. Perguruan Tinggi Pesantren. (Jakarta: Gema Insani Press, 1997). hal. 70.
[4] Departemen Agama RI, Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah, (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2003), hal. 1
[5] Mujamil Qamar, Pesantren dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, (Jakarta: Erlangga, 2005), hal. 2
[6] Abd. Aziz, Filasafat Pesantren Genggong, (Probolinggo: STAI Zainul Hasan Genggong, 2011), hal. 26
[7] Abd. Aziz, Pradigma Pendidikan Pesantren Genggong, (Probolinggo: STAI Zainul Hasan Genggong, 2012), hal. 141
[8] M. Bahri Ghazali, Pendidikan Pesantren Berwawasan Lingkungan, Kasus Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura, (Jakarta: IKIP, 2001), hal. 29
[9] Abd. Aziz, Pesntren Genggong……..hal. 29
[10] M. Bhari Ghazali, Pendidikan Pesantren Berwawasan Lingkungan,……..hal. 29
[11] Abd. Aziz, Pradigma Pendidikan Pesantren Gengggong,………..hal. 143
[12] Ibid, hal. 143
[13] Abdullah Fadjan, Peradaban dan pendidikan Islam, (Jakarta: CV. Rajawali, 1991).